Rabu, 06 April 2011

PERANAN KETELADANAN NABI MUHAMMAD DALAM PERKEMBANGAN BUDI PEKERTI

BAB 1
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Kehidupan seorang manusia tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia lainnya. Sifat-sifat yang ada pada manusia cenderung ada suatu kesamaan, hal ini bisa diketahui bahwasanya seseorang berbuat sesuatu karena terobsesi oleh perbuatan orang lain. Wajarlah bila sifat-sifat yang ada pada manusia punya kecenderungan untuk meniru. Perbuatan meniru untuk hal yang positif dan terpuji disebut meneladani, yang biasanya banyak ditemui dalam kehidupan umat. Dalam hal ini seorang pemimpin mempunyai pengaruh yang kuat terhadap masyarakatnya.Dalam agama Islam dicontohkan sosok yang patut kita teladani yaitu Nabi Muhammad SAW, dimana dijelaskan dalam firman Allah SWT. Dalam surat Al-Ahzab ayat 21 :لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة
artinya : (sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah (muhammad SAW) teladan yang baik).
Rasulullah sebagai pendidik dan pengajar agung telah diberi anugerah predikat oleh Allah SWT sebagai “uswatun hasanah”. Keteladanan Rasulullah telah terlihat sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, dimana keteladanan beliau tercermin dari perkatannya, perbuatannya, sifat dan sikap beliau. Telah banyak musuh beliau dengan mudah mengikuti ajaran Agama Islam hanya karena kepribadian beliau. Dari hal tersebut dapat ditarik suatu pernyataan bahwasanya orang lebih mudah melakukan sesuatu dengan melihat atau menyaksikan daripada mendengarkan. Sebagaimana dalam sebuah keluarga kecenderungan anak bertingkah laku adalah tidak jauh dari apa-apa yang diperbuat oleh orang tuanya.Kebiasaan-kebiasaan orang yang lebih tua di lingkungan tertentu menjadi sasaran tiruan bagi anak-anak sekitarnya. Meniru adalah suatu faktor yang penting dalam periode pertama dalam pembentukan kebiasaan seorang anak. Umpamanya melihat sesuatu yang terjadi di hadapan matanya, maka ia akan meniru dan kemudian mengulang-ulangi perbuatan tersebut hingga menjadi kebiasaan pula baginya. Oleh karena itu kehati-hatian para pendidikan / guru juga orang tua dalam bersikap dan berkata harus diperhatikan mengingat bahwa anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka saksikan. Di dalam pendidikan Islam sendiri menekankan adanya pendidikan budi pekerti untuk mendidik akhlak manusia sesuai dengan ajaran agama Islam.

B. PERMASALAHAN
Berdasarkan Latar Belakang yang telah di bahas sebelumnya maka penulis menarik sebuah permasalahan yaitu “Pengaruh Keteladanan Terhadap Budi Pekerti”.

C. MANFAAT MAKALAH
1. Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sumber bacaan dan reverensi untuk lebih meningkatkan etika dan budi pekertinya kearah yang lebih baik sehingga dapat menjadi teladan bagi masyarakat.
2. Bagi Pendidik, setelah membaca makalah ini diharapkan agar lebih meningkatkan mutu dan kualitas mengajar. Terutama pada pendidikan agama Islam, karena selain menjadi teladan dan bertanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anak didik agar sesuai dengan tuntunan agama Islam, juga bertanggung jawab terhadap Allah SWT di akhirat nanti.

BAB 11
TINJAUAN PUSTAKA

1. KONSEP TELADAN
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Teladan” berarti sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (perbuatan, kelakuan, sifat, dsb).
2. KONSEP BUDI PEKERTI

Pengertian budi pekerti dapat dikaji dari berbagai sudut pandang, antara lain secara etimologi (asal usul kata), leksikal (kamus), konsepsional (teori) dan operasional (praktis).
Secara etimologi budi pekerti terdiri dari dua unsur kata, yaitu budi dan pekerti. Budi dalam bahasa sangsekerta berarti kesadaran, budi, pengertian, pikiran dan kecerdasan. Kata pekerti berarti aktualisasi, penampilan, pelaksanaan atau perilaku. Dengan demikian budi pekerti berarti kesadaran yang ditampilkan oleh seseorang dalam berprilaku.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) istilah budi pekerti diartikan sebagai tingkah laku, perangai, akhlak dan watak. Budi pekerti dalam bahasa Arab disebut dengan akhlak, dalam kosa kata latin dikenal dengan istilah etika dan dalam bahasa Inggris disebtu ethics.
Senada dengan itu Balitbang Dikbud (1995) menjelaskan bahwa budi pekerti secara konsepsional adalah budi yang dipekertikan (dioperasionalkan, diaktualisasikan atau dilaksanakan) dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan pribadi, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara.
Budi pekerti secara operasional merupakan suatu prilaku positif yang dilakukan melalui kebiasaan. Artinya seseorang diajarkan sesuatu yang baik mulai dari masa kecil sampai dewasa melalui latihan-latihan, misalnya cara berpakaian, cara berbicara, cara menyapa dan menghormati orang lain, cara bersikap menghadapi tamu, cara makan dan minum, cara masuk dan keluar rumah dan sebagainya.
Pendidikan budi pekerti sering juga diasosiasikan dengan tata krama yang berisikan kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia. Tata krama terdiri atas kata tata dan krama. Tata berarti adat, norma, aturan. Krama sopan santun, kelakukan, tindakan perbuatan. Dengan demikian tata krama berarti adat sopan santun menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dalam menerapkan nilai-nilai budi pekerti dalam kehidupan sering terjadi benturan-benturan nilai dan norma-norma yang kita rasakan. Apa yang dahulu kita anggap benar mungkin sekarang sudah menjadi salah. Apa yang dulu kita anggap tabu dibicarakan sekarang sudah menjadi suatu yang lumrah. Misalnya berbicara masalah seks, hubungan pacaran, masalah politik, masalah hak azazi manusia, dan sebagainya











BAB III
PEMBAHASAN

1. KETELADANAN NABI MUHAMMAD SAW
Keagungan Nabi Muhammad dengan budi pekerti luhur, akhlak mulia, serta keteladanan, dalam perspektif sejarah tampak jelas telah memberi pengaruh yang luar biasa terhadap dinamika dan pembangunan masyarakat di masanya dan di masa khulafaurrasyidin. Masyarakat era Nabi dan khulafaurrasyidin, digelari Allah SWT sebagai "masyarakat ideal". Sebagai seorang Nabi dan Rasul, keagungannya yang melekat adalah keluhuran budi pekerti. Itulah yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur'an surah al-Qalam ayat 4 :
وَاِنَّكَ لَعَلى خُلُقِ عَظِيْمِ
( sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur).
Penegasan itu, kita temukan pula dalam surah al-Ahzab ayat 21 :
لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة (sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah (muhammad SAW) teladan yang baik).
Atas dasar itulah, Nabi Muhammad SAW menegaskan risalah Kerasulannya : "untuk menyempurnakan budi pekerti dan akhlak" : انما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahklak yang mulia).
Budi pekerti dan teladan Rasulullah yang merupakan bagian penting risalahnya, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ini ditegaskan Allah dalam surah Al-Anbiyaa (21) :107)
(وما ارسلناك الا رحمة للـعـا لمين ) ”kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad), kecuali untuk menbawa rahmat bagi seluruh alam”.
Kehidupan Rasulullah dilihat dari sisi rahmat, paling tidak dapat ditinjau dari dua faktor penting yaitu : Pertama : masyarakat manusia kala itu, sudah kehilangan personifikasi panutan yang dapat ditiru dan dijadikan contoh. Kedua : masyarakat manusia, telah kehilangan orientasi nilai moralitas kehidupan dalam bimbingan dan tuntunan agama. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW tampil sebagai sosok moral sempurna, dengan subtansi pendidikan moral ilahiyah, moralitas di bawah petunjuk Allah. Hal ini, dakui sendiri oleh Nabi, sebagaimana sabdanya :
(ادبنى ربى فاحسن تأديبي) (Tuhan yang mendidikku, sehingga hasilnya teramat baik)
ABanyak hal yang dapat kita teladani dari Rasulullah SAW antara lain kepemimpinan dan kepribadian beliau yang utama. Rasulullah SAW. diakui oleh lawan maupun kawan bahwa beliau berakhlak mulia. Diantara akhlak mulia yang dimiliki Rasulullah SAW. adalah sifat Shiddiq, Amanat, Fathonah dan Tabligh. Siapapun Orang yang beriman baik sebagai pemimpin maupun orang yang dipimpin, perlu meneladani sifat wajib Rasulullah SAW. agar berakhlak mulia dan tinggi kepribadiannya.

a. Sifat Shiddiq
Shiddiq adalah benar ucapannya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kalau bicara nya lain dengan kenyataan, maka itulah yang disebut dusta / bohong. Orang yang selalu benar bicaranya menjadi Orang yang baik-baik dan membawanya ke Surga. Allah SWT mencatatnya sebagai Orang yang jujur. Dan orang yang suka berdusta dalam berbicara, dia akan menjadi orang yang jahat dan menyeretnya ke jurang api neraka. Allah SWT mencatatnya sebagai Pendusta.Apakah kita ingin menjadi orang yang baik-baik ? Jawabannya adalah “ Jujur “. Orang yang beriman harus selalu dalam berbicara, berpegang teguh pada kebenaran dan siap membela kebenaran. Kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, tidak perlu diragukan lagi.

b. Sifat Amanat
Amanat artinya dapat dipercaya perbuatannya. Melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya, menyampaikan dan menjaga apapun yang dipercayakan kepadanya. Sebaliknya apabila seseorang yang diberi kepercayaan tidak dapat melaksanakan, menyampaikan dan menjaganya dengan baik itulah yang disebut Khianat. Orang yang dapat menjaga amanatlah yang akan diberi kepercayaan oleh Orang lain. Dan kepercayaan orang lain itu merupakan modal dasar yang sangat tinggi nilainya.

c. Sifat Fathonah
Fathonah artinya cerdas. Setiap orang telah diberi kecerdasan oleh Allah SWT yang berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya. Dengan kecerdasan kita dapat menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, yang tentu sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern ini. Dengan Ilmu lah kebahagiaan hidup akan dapat dicapai, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai pelajar kita tentu harus bisa menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi agar dapat mengikuti perkembangan zaman, dan yang penting lagi dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.




d. Sifat Tabligh
Tabligh adalah menyampaikan wahyu dari Allah SWT. Wahyu adalah petunjuk yang benar yang menjadi landasan hidup kita dan membimbing kita dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki baik didunia maupun di akhirat. Untuk mencapai hal tersebut kita wajib saling mengingatkan satu sama lain, mengajak yang baik dan benar serta mencegah kemunkaran, agar tercipta masyarakat yang baik, damai dan sejahtera.
itulah 4 sifat kepribadian Rasulullah SAW yang harus kita contoh agar kita menjadi orang yang baik, terpercaya, cerdas dan bermanfaat bagi masyarakat.

2. PENGARUH KETELADANAN TERHADAP BUDI PEKERTI

kebutuhan manusia akan keteladanan lahir dari suatu gharizah (naluri) yang bersemayam di dalam jiwa manusia yaitu jiwa taqlid (peniruan). Sebagai contoh bahwa manusia yang suka meniru adalah sekelompok anak remaja yang sedang mengalami perkembangan, ia mulai mencari orang lain yang dapat mereka jadikan teladan (idola) sebagai ganti orang tua dan orang-orang yang bisa menasehati mereka. Maka manusia teladan (idola) yang dijadikan contoh di kalangan remaja itu, biasanya membawa remaja untuk meniru dan mengagungkan idola tersebut, apa saja yang dilakukan atau dibuat idolanya itu, akan dipuji dan ditiru oleh remaja-remaja tersebut. Idola-idola tersebut sangat berpengaruh pada remaja yang secara tidak langsung akan mempengaruhi budi pekerti mereka. Seandainya yang menjadi idola itu baik, maka pengaruhnya juga baik, tapi kalau idola tersebut tidak baik maka pengaruhnya juga tidak baik bagi remaja itu.



Maka Tugas kita sebagai umat Muhammad SAW adalah berupaya terus menerus melakukan identifikasi aspek-aspek kehidupan Nabi dan corak dinamika masyarakat di masa beliau (Meneladani), serta mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dewasa ini, sehingga menjadi masyarakat, bangsa, dan Negara yang sejahtera lahir dan batin serta senantiasa dalam bimbingan dan ampunan Allah SWT, dijauhkan dari segala musibah dan marabahaya.




















BAB IV
PENUTUP

1. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka Penulis menarik sebuah kesimpulan yaitu
a. Dalam agama Islam sosok yang patut kita teladani yaitu Nabi Muhammad SAW, dimana dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab ayat 21 :
لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة
(sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah (Muhammad SAW) teladan yang baik).
b. 4 sifat kepribadian Rasulullah SAW yang harus kita contoh agar kita menjadi orang yang baik, terpercaya, cerdas dan bermanfaat bagi masyarakat yaitu sifat Shiddiq, Amanat, Fathonah dan Tabligh.
2. SARAN
Kunci utama dari keteladanan Rasulullah SAW, yaitu memberi contoh (berbuat) Sebelum menyuruh (mengatakan). Kita pun harus demikian, kita harus memberi contoh yang baik terlebih dahulu sebelum menyerukannya kepada orang lain. Sebagai saran, marilah kita masing-masing mengaktualisasikan keteladanan Rasulullah SAW, agar kita benar-benar menjadi 'teladan sejati' seperti halnya Rasulullah SAW. Wallahu a'lam.






DAFTAR PUSTAKA

http://downloadebookgratisan.com/?s=keteladanan+nabi+muhammad
http://kamus.sabda.org/kamus/keteladanan
http://keteladanananak.blogspot.com/2009/02/sikap-keteladanan-menunjukkan.html
http://mynissa.blog.friendster.com/2006/08/menapak-jejak-keteladanan-rasulullah/
http://pa-nabire.net/index.php?option=com_content&task=view&id=56&Itemid=57
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/11/02/15/164100-hikmah-keteladanan-rasulullah

















KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syukur alhamdulillah kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul “PENGARUH KETELADANAN TERHADAP BUDI PEKERTI “ dapat diselesaikan dengan lancar.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman serta Dosen Penanggung Jawab Mata Kuliah ‘’Budi Pekerti & Etika” yang telah memberikan saran sehingga sangat membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa baik isi maupun cara penyusunan makalah ini jauh dari sempurna.Karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini berguna dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kendari, Maret 2011

Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………….ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ……………………………………………………….1
B. PERMASALAHAN………………………………………………………….2
C. MANFAAT MAKALAH…………………………………………………….2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. KONSEP TELADAN………………………………………………………..3
2. KONSEP BUDI PEKERTI………………………………………………….3
BAB III PEMBAHASAN
1. KETELADANAN NABI MUHAMMAD SAW……………………………5
2. PENGARUH KETELADANAN TERHADAP BUDI PEKERTI………...8
BAB IV PENUTUP
1. KESIMPULAN……………………………………………………………..10
2. SARAN……………………………………………………………………....10

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………..iii

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar